Kamis, 05 November 2009

globalisme

Membincang Ulang

Globalisasi

Berbincang mengenai globalisasi, tidak akan purna rasanya tatkala perbincangan hal tersebut hanya dikerucutkan ke dalam perdebatan yang sifatnya di permukaan, dimana perbincangan kita berkisar mengenai globalisasi sebagai bentuk akhir sebagaimana kita lihat sekarang ini. Dengan sedikit mencomot pengertian globalisasi menurut pengertian umum, bahwasanya globalisasi merupakan ; penyusutan ruang dan waktu bagi bumi manusia, hewan, dan tumbuhan. Penyusutan ini kemudian menjelma menjadi suatu hubungan interkoneksi dan interdependensi bagi tiap-tiap individu manusia dan mahluk lainnya dalam skala global (mengapa mahluk hidup lainnya ? bukankah impor bahan pangan maupun perdagangan satwa memiliki selubung transaksi transnasional ?).

Jika kita membuka lembaran sejarah bumi Jawa, yang merupakan bagian dari Indonesia, bukankah kerajaan Majapahit merupakan salah satu agen dalam perdagangan internasional di jamannya ?, akankah menjadi buruk penilaian kita terhadap Majapahit, karena ia merupakan salah satu kerajaan adi kuasa yang mampu melakukan kerja global yang kita fahami saat ini ? bisa menjadi relative, namun hemat saya, apa yang dilakukan oleh Majapahit merupakan globalisasi pada tingkatan primitive (menjadikan motif ekonomi sebagai satu-satunya tujuan, tanpa harus melibatkan motif lainnya ; politik, budaya, dan sosial didalamnya. Dimana hanya pada satu aspek saja yang terkena dampaknya sekaligus, yakni aras perekonomian. Sedangkan yang lain-lain, tetap kokoh di tempatnya masing-masing. Semisal kebudayaan, bukankah kebudayaan di tiap-tiap negeri yang menjadi kantung distribusi perdagangan majapahit tidak lantas menjadi ke jawa-jawaan ?.

Dengan kata lain globalisasi yang kita lihat dan rasakan sekarang merupakan globalisasi yang tidak bisa kita fahami sebagai satu-satunya mindset dalam memandang proses globalisasi sendiri, minimal dalam memandang proses mengglobalnya hubungan antar kerajaan maupun Negara, dimasa lalu.

Globalisme ditangan para Liberalis

Konteks kekinian lebih tepat tatkala kita melihat agenda-agenda globalisasi yang dihasilkan merupakan jelmaan dari peranan politik neo-liberalisme. Dengan kata lain proses hegemoni wacana maupun kebijakannya bermuara dari kekuatan sistem neo-liberlisme, dengan agenda-agenda yang memiliki dampak terjadinya transisi perekonomian, politik, budaya, maupun perubahan sosial yang serempak di setiap belahan dunia lainnya. Kita bisa melihat perekmbangannya semenjak berkahirnya Perang Dunia (1918-1939) hingga konferensi Bretton Woods. Dimana perkembangan perekonomian dunia setelah perang dunia, dibawah kepemimpinan Amerika Serikat dan Inggris, mengalami perubahan yakni ; mengubah kebijakan proteksionis masa antar-perang (1918-1939) dengan berkomitmen untuk memperluas perdagangan internasional. Sedangkan konfrensi Bretton woods menghasilkan liberalisasi terbatas atas perdagangan dan penciptaan aturan-aturan yang mengikat kegiatan ekonomi internasional, hasil konferensi ini kemudian menelurkan organisasi-organsiasi eknomi global di bawah kepemimpinan AS sebagai komando. Hal ini dapat dilihat dari hasil kesepakatan dalam konferensi tersebut yang menciptakan sistem pertukaan mata uang yang stabil, dimana nilai mata uang masing-masing Negara dipatok terhadap dollar AS yang nilainya disejajarkan dengan harga emas. Tiga Organiasasi tersebut IMF, GATT yang kemudian di ganti dengan organisais WTO dengan fungsi yang hampir sama, dan Bank Dunia.

Perkembangan tersebut menjadi landasan dalam penghegemonian sistem neo-lib sebagai arus ekonomi, politik, dan budaya yang utama sebagai percontohan bagi Negara-negara di dunia, terutama Negara berkembang. Sebagai contoh kita akan melihat 5 kalim globalisasi yang ditulis Manfred B. Steger dalam meretas pengaruhnya di belahan bumi lainnya (non anglo-amerika) dalam mencapai kesejahteraan.

  1. Globalisasi adalah Liberalisasi dan Integrasi pAsar
  2. Globalisasi adalah sesuatu yang tak terelakan dan tak berbalik
  3. Tak seorangpunm memegang kendali atas globalisasi
  4. Globalisasi menguntungkan semua orang
  5. Globalisasi meningkatkan penyebaran demokrasi di seluruh dunia

klaim-kalim tersebut mencerminkan bagi sebuah global idiology, yang memolakan, mengkonsolidasikan, menciptakan tata tertib dalam arus tindakan manusia, mengikuti pola-pola sistemik yang menghisap bagi pranata yang tidak siap menahannya.1 Global Idiology ini juga memperkuat rasionalitas sistem kekuasaan sehingga dapat memiliki legitimasi.

Legitimasi inilah yang kemudian menjadi bahasa koersif dari ide dan eja-an kedepan. Terjawab kemudian bangunan bahwa sistem legitimasi (Global Idiology) ini akan berjalan dengan cara apapun untuk memaksa atau menghegemoni basis kesadaran, nilai dan pola pikir akan terjadi sebagai hal yang nyata. Global Idiology ini adalah sistem kapitalisme dan imperialisme lanjut, yang kemudian menjelma menjadi suatu sistem politik neo-liberalisme dan globalisme sebagai sistem ideologinya, yang bernafaskan pada akumulasi keuntungan dalam sistem produksi dan sistem konsumsi yang dibangun dengan penghisapan resourses tenaga (buruh, tani, dan pengangguran) serta alam dari pola eksplorasinya. Prinsip sederhananya adalah nilai keuntungan yang diambil dengan memisahkan modal (kaum borjuis) dan tenaga (ploretar) sebagai bangun yang terpisah dari sistem produksi, digunakan untuk memutar dan melegitimasikan bagi bangunan produksi yang semakin besar dan efektif/efisien bagi oligarkis pemilik modal.

Konteks Indonesia

Kecenderungan di atas akan bergerak dinamis dalam masyarakat yang sedang mengalami transisi dari basis produksi primitif (feodal) yang bersendikan pada kepemilikan tanah luas dan relasi kekuasaan tuan tanah terhadap buruh dan petani kecil menuju masyarakat industri yang sudah mengadopsi perkembangan – perkembangan teknologi dengan efektifitas dan efisiensi guna memudahkan sentralisasi kapital.2

Pola tersebut menjadi basis kenyataan yang bergerak di dalam masyarakat Indonesia. Indikasi yang bisa digunakan dalam kondisi empirik sekitar kita adalah terletak dalam dua hal, pertama adalah munculnya sistem produksi global yang menggeser basis kepemilikan alat produksi dan kedua adalah pola konsumsi yang tinggi (high consumtion) di dalam masyarakat. Sebagai contoh, fenomena tingginya pergantian fungsi tanah pertanian yang beralih menjadi perumahan atau mall pertokoan, penjualan tanah untuk biaya pendidikan, dan pergantian petani menjadi nelayan yang marak di pantai selatan jawa sejauh garis Deandelles selatan, seiring dengan arus modernisasi yang dipilih oleh daerah-daerah di selatan pulau jawa dengan proyek pelabuhan. Contoh pola kedua adalah perkembangan teknologi dan pluralitas barang konsumsi mulai dari alat kecantikan sampai dengan HP (hand phone) yang menjadi trand mark baru di generasi muda Indonesia.

Dengan demikian, dalam rangka menghadapi era-globalisasi mendatang, dalam konteks ke-Indonesia-an, sebaiknya tidak luput dari perbincangan pada tataran wacana agenda-agenda globalisasi saat ini, yang mustahil untuk kita fahami hanya dengan melihat sistem yang berjalan sebagai “produk jadi” tanpa melihat konteks historis, ekonomis, politis, maupun budaya dimana agenda-agenda tersebut diejawantahkan dalam strukutur pranata sosial masyarakat dan negara kita.

Catatan

[1] Sastrapatedja. M, Dari Utopia ke Idiologi. Prisma. 1983. hal 5

[1] Lihat, The German Idiology, Marx, Karl, and Engles

Membincang Ulang

Globalisasi

Berbincang mengenai globalisasi, tidak akan purna rasanya tatkala perbincangan hal tersebut hanya dikerucutkan ke dalam perdebatan yang sifatnya di permukaan, dimana perbincangan kita berkisar mengenai globalisasi sebagai bentuk akhir sebagaimana kita lihat sekarang ini. Dengan sedikit mencomot pengertian globalisasi menurut pengertian umum, bahwasanya globalisasi merupakan ; penyusutan ruang dan waktu bagi bumi manusia, hewan, dan tumbuhan. Penyusutan ini kemudian menjelma menjadi suatu hubungan interkoneksi dan interdependensi bagi tiap-tiap individu manusia dan mahluk lainnya dalam skala global (mengapa mahluk hidup lainnya ? bukankah impor bahan pangan maupun perdagangan satwa memiliki selubung transaksi transnasional ?).

Jika kita membuka lembaran sejarah bumi Jawa, yang merupakan bagian dari Indonesia, bukankah kerajaan Majapahit merupakan salah satu agen dalam perdagangan internasional di jamannya ?, akankah menjadi buruk penilaian kita terhadap Majapahit, karena ia merupakan salah satu kerajaan adi kuasa yang mampu melakukan kerja global yang kita fahami saat ini ? bisa menjadi relative, namun hemat saya, apa yang dilakukan oleh Majapahit merupakan globalisasi pada tingkatan primitive (menjadikan motif ekonomi sebagai satu-satunya tujuan, tanpa harus melibatkan motif lainnya ; politik, budaya, dan sosial didalamnya. Dimana hanya pada satu aspek saja yang terkena dampaknya sekaligus, yakni aras perekonomian. Sedangkan yang lain-lain, tetap kokoh di tempatnya masing-masing. Semisal kebudayaan, bukankah kebudayaan di tiap-tiap negeri yang menjadi kantung distribusi perdagangan majapahit tidak lantas menjadi ke jawa-jawaan ?.

Dengan kata lain globalisasi yang kita lihat dan rasakan sekarang merupakan globalisasi yang tidak bisa kita fahami sebagai satu-satunya mindset dalam memandang proses globalisasi sendiri, minimal dalam memandang proses mengglobalnya hubungan antar kerajaan maupun Negara, dimasa lalu.

Globalisme ditangan para Liberalis

Konteks kekinian lebih tepat tatkala kita melihat agenda-agenda globalisasi yang dihasilkan merupakan jelmaan dari peranan politik neo-liberalisme. Dengan kata lain proses hegemoni wacana maupun kebijakannya bermuara dari kekuatan sistem neo-liberlisme, dengan agenda-agenda yang memiliki dampak terjadinya transisi perekonomian, politik, budaya, maupun perubahan sosial yang serempak di setiap belahan dunia lainnya. Kita bisa melihat perekmbangannya semenjak berkahirnya Perang Dunia (1918-1939) hingga konferensi Bretton Woods. Dimana perkembangan perekonomian dunia setelah perang dunia, dibawah kepemimpinan Amerika Serikat dan Inggris, mengalami perubahan yakni ; mengubah kebijakan proteksionis masa antar-perang (1918-1939) dengan berkomitmen untuk memperluas perdagangan internasional. Sedangkan konfrensi Bretton woods menghasilkan liberalisasi terbatas atas perdagangan dan penciptaan aturan-aturan yang mengikat kegiatan ekonomi internasional, hasil konferensi ini kemudian menelurkan organisasi-organsiasi eknomi global di bawah kepemimpinan AS sebagai komando. Hal ini dapat dilihat dari hasil kesepakatan dalam konferensi tersebut yang menciptakan sistem pertukaan mata uang yang stabil, dimana nilai mata uang masing-masing Negara dipatok terhadap dollar AS yang nilainya disejajarkan dengan harga emas. Tiga Organiasasi tersebut IMF, GATT yang kemudian di ganti dengan organisais WTO dengan fungsi yang hampir sama, dan Bank Dunia.

Perkembangan tersebut menjadi landasan dalam penghegemonian sistem neo-lib sebagai arus ekonomi, politik, dan budaya yang utama sebagai percontohan bagi Negara-negara di dunia, terutama Negara berkembang. Sebagai contoh kita akan melihat 5 kalim globalisasi yang ditulis Manfred B. Steger dalam meretas pengaruhnya di belahan bumi lainnya (non anglo-amerika) dalam mencapai kesejahteraan.

  1. Globalisasi adalah Liberalisasi dan Integrasi pAsar
  2. Globalisasi adalah sesuatu yang tak terelakan dan tak berbalik
  3. Tak seorangpunm memegang kendali atas globalisasi
  4. Globalisasi menguntungkan semua orang
  5. Globalisasi meningkatkan penyebaran demokrasi di seluruh dunia

klaim-kalim tersebut mencerminkan bagi sebuah global idiology, yang memolakan, mengkonsolidasikan, menciptakan tata tertib dalam arus tindakan manusia, mengikuti pola-pola sistemik yang menghisap bagi pranata yang tidak siap menahannya.1 Global Idiology ini juga memperkuat rasionalitas sistem kekuasaan sehingga dapat memiliki legitimasi.

Legitimasi inilah yang kemudian menjadi bahasa koersif dari ide dan eja-an kedepan. Terjawab kemudian bangunan bahwa sistem legitimasi (Global Idiology) ini akan berjalan dengan cara apapun untuk memaksa atau menghegemoni basis kesadaran, nilai dan pola pikir akan terjadi sebagai hal yang nyata. Global Idiology ini adalah sistem kapitalisme dan imperialisme lanjut, yang kemudian menjelma menjadi suatu sistem politik neo-liberalisme dan globalisme sebagai sistem ideologinya, yang bernafaskan pada akumulasi keuntungan dalam sistem produksi dan sistem konsumsi yang dibangun dengan penghisapan resourses tenaga (buruh, tani, dan pengangguran) serta alam dari pola eksplorasinya. Prinsip sederhananya adalah nilai keuntungan yang diambil dengan memisahkan modal (kaum borjuis) dan tenaga (ploretar) sebagai bangun yang terpisah dari sistem produksi, digunakan untuk memutar dan melegitimasikan bagi bangunan produksi yang semakin besar dan efektif/efisien bagi oligarkis pemilik modal.

Konteks Indonesia

Kecenderungan di atas akan bergerak dinamis dalam masyarakat yang sedang mengalami transisi dari basis produksi primitif (feodal) yang bersendikan pada kepemilikan tanah luas dan relasi kekuasaan tuan tanah terhadap buruh dan petani kecil menuju masyarakat industri yang sudah mengadopsi perkembangan – perkembangan teknologi dengan efektifitas dan efisiensi guna memudahkan sentralisasi kapital.2

Pola tersebut menjadi basis kenyataan yang bergerak di dalam masyarakat Indonesia. Indikasi yang bisa digunakan dalam kondisi empirik sekitar kita adalah terletak dalam dua hal, pertama adalah munculnya sistem produksi global yang menggeser basis kepemilikan alat produksi dan kedua adalah pola konsumsi yang tinggi (high consumtion) di dalam masyarakat. Sebagai contoh, fenomena tingginya pergantian fungsi tanah pertanian yang beralih menjadi perumahan atau mall pertokoan, penjualan tanah untuk biaya pendidikan, dan pergantian petani menjadi nelayan yang marak di pantai selatan jawa sejauh garis Deandelles selatan, seiring dengan arus modernisasi yang dipilih oleh daerah-daerah di selatan pulau jawa dengan proyek pelabuhan. Contoh pola kedua adalah perkembangan teknologi dan pluralitas barang konsumsi mulai dari alat kecantikan sampai dengan HP (hand phone) yang menjadi trand mark baru di generasi muda Indonesia.

Dengan demikian, dalam rangka menghadapi era-globalisasi mendatang, dalam konteks ke-Indonesia-an, sebaiknya tidak luput dari perbincangan pada tataran wacana agenda-agenda globalisasi saat ini, yang mustahil untuk kita fahami hanya dengan melihat sistem yang berjalan sebagai “produk jadi” tanpa melihat konteks historis, ekonomis, politis, maupun budaya dimana agenda-agenda tersebut diejawantahkan dalam strukutur pranata sosial masyarakat dan negara kita.

Catatan

[1] Sastrapatedja. M, Dari Utopia ke Idiologi. Prisma. 1983. hal 5

[1] Lihat, The German Idiology, Marx, Karl, and Engles

perjuangan

Dua belas september 1995

Namaku Dwipa Nusantara, kelahiranku ialah berkah bagi ke dua orangtua ku. Karena akulah anak pertama dari pasangan bapak Nusantara dan emak Orde setelah pernikahannya yang ke-45 tahun. Mengenai namaku, Ibu pernah bertutur saat usiaku genap 12 tahun, bahwa kelak disaat aku telah bisa berpikir dan bertindak menurut keyakinanku sendiri, “Bumi Nusantara yang kau pijak adalah tanah leluhur dan kelahiranmu yang tidak akan kau khianati dan tak pernah rela untuk menyaksikan kehancurannya. Kau lah anakku yang mempunyai tanggung jawab bersama yang lain untuk mencipta bumi nusantara ini menjadi lebih arif dan baik seperti yang dicitakan para pendiri bangsa dan negara ini atas kemajuan jaman, kaulah nantinya yang akan menjadi anak jaman atas negeri mu”, tutur ibuku sesaat setelah shalat Isya usai dilakukan beserta ayahku yang masih khusyuk bertasbih.

Aku dibesarkan di daerah penuh dengan hiruk pikuk roda perekonomian rakyat kecil nan jelata, Pasar Jambu Manis di Kabupaten Ciamis yang sejuk tatkala aku kecil, karena masih kuingat disekitaran Pasar penuh dengan lahan hijau yang ditumbuhi pohon Mahoni yang rata-rata berumur tiga puluh-an tahun namun menjadi panas rasanya kota ini di saat aku besar, karena bukan lagi pohon Mahoni yang bertengger di sekitaran pasar Jambu ini, namun rentetan toko yang semakin tahun bertambah banyak.

Saat umurku genap lima tahun aku di sekolahkan di SD IPK Ciamis 1,yang sedikit banyak mengandalkan pelajaran kesenian sebagai tolak ukur Pengemban nama Kesenian di belakangnya. Aku tak memilih untuk masuk TK, karena jijik melihat teman sebayaku yang mengenakan baju oranye. Karena alasan itu sajalah aku tak memasuki Taman Kanak-kanak saat itu, hasilnya aku harus mengulang satu tahun di kelas satu, karena aku-lah yang menduduki zona degradasi. Tapi, kata bapakku, aku tidak naik kelas karena kasihan melihat umurku yang masih enam tahun kala itu. Entah cerita Bapakku sendiri yang harus aku percayai atau fakta bahwa akulah juru kunci di kelasku dengan nilai yang kebanyakan berwarna merah kecuali untuk pelajaran agama, mendapat nilai enam.

Tujuh tahun berlalu dalam hidupku, dan di tahun ke delapan semenjak aku masuk bangku Sekolah Dasar, SMP N 1 Ciamis ialah institusi pendidikanku selanjutnya. Di SMP ini aku menemukan cinta pertama, karena ke-tidaksengajaan-ku melamun di saat jam pelajaran Matematika. Kala itu aku menerawang kosong ke jendela samping kananku, dan akupun tak ingat apa yang ku lamunkan saat itu, sepertinya soal darimana aku dapatkan sesuap nasi di saat jam istirahat tiba. Lamunanku berlanjut sampai dimana aku menyadari bahwa wanita diseberang bangku searah dengan jendela samping kananku, menatapku aneh dan tersenyum tatkala aku merasa kikuk karena tatapannya.

Semenjak tatapan ketidaksengajaan itu aku semakin dekat dengan wanita seberang bangku kananku itu, dan kita adalah pasangan pertama dan satu-satunya untuk kelas I-E sampai tahun ajaran pertama berakhir. Pasangan Inses ialah julukan kami berdua, karena merupakan pasangan satu kelas, yang sebenarnya merupakan ulah Guru Pelajaran Biologiku bernama Asep Sunandar. Karena kemurahan beliaulah kami mendapat julukan semacam itu. Sialan!!!.

Keseharianku selain sekolah ialah membantu bapak dan ibuku menyiapkan dagangan bakso di pagi hari, dan inilah soko guru ekonomi keluargaku, sebagai keluarga tukang bakso keliling dan tak memiliki sawah untuk ditanami aku tak pernah mendapatkan kehidupan yang nyaman dengan gelimangan harta dan kesenangan, sebagian besar ialah perih dan tangis yang menyertai. Pernah suatu ketika tatkala bapak mangkal di perempatan Jalan dekat Pasar, tiba-tiba dia dipaksa harus menyingkir oleh polisi lalu lintas setempat, bahkan pikulan bakso bapak tumpah ruah di jalanan, karena Sang Jendral, Bapak Pembangunan, Penguasa Orde akan melewati Jalanan tersebut. Padahal dagangan bapak belum satu mangkuk pun terjual. Ahasil kami sekeluarga hanya bisa menikmati satu piring nasi sisa pagi tanpa lauk.

Begitulah aku sebagai anak tunggal tukang bakso, yang tak pernah diijinkan untuk memetik keahlian sang bapak membikin bakso bahkan ikut berkeliling menjajakan bakso di seputaran Kota Ciamis, karena Bapak dan Ibu ku yakin dengan sekolah, aku takkan mendapatkan kesialan untuk kedua-kalinya setelah Bapak di PHK sebagai Reporter di surat kabar lokal, yang mengungkapkan tindakan korupsi Bupati Ciamis atas dana perbaikan sarana pariwisata wilayah Pangandaran. Setelah lima belas tahun mengabdi ikut membesarkan surat kabar tersebut.

12 September 1996

Kini aku telah lulus SMA dan tak banyak kenangan yang mengesankan bagiku, selain penegetahuanku dari sejumlah buku karya Karl Marx atas kelas-kelas sosial di negeri ini yang tercipta dari ketimpangan yang teramat jauh antara yang menjajah dan dijajah. Para elit ekonomi dan wakil rakyat yang menjajah atas rakyatnya sendiri inilah sumber kebobrokan negeri tercinta ini. Mereka adalah antek kapital dunia pertama yang mengantongi sedikit untuk kepentingannya sendiri dan meberikan kesengsaraan yang teramat banyak bagi rakyat Indonesia!!!.

Aku diterima sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Negeri terkemuka di Bandung, sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah,Universitas Padjajaran. Akulah satu-satunya lulusan SMA N 1 Ciamis yang mengambil jurusan ini, atas dasar keingintahuanku atas identitas dan nilai-nilai bangsa dan negeri ini di masa yang lalu. Sedangkan teman-temanku semasa SMA banyak memilih untuk melanjutkan di ikatan dinas yang mencetak para birokrat kampung nantinya, STPDN dan sebagian memilih untuk melanjutkan di IKIP, yang mencita-citakan dirinya menjadi guru dengan status PNS kelak. Kampusku sebenarnya berada di wilayah administrasi kota Sumedang, tepatnya wilayah Jatinangor yang jauh dari hiruk pikuk kemajuan kota Bandung, namun antusiasme meraup pengetahuan dari mahasiswanya membuatku merasa kerasan tinggal di wilayah ini, apalagi dengan fasilitas kamar Kos-kosan gratis kepunyaan Ibu dari pacarku di SMP, yang mendapatkan titipan langsung dari anaknya yang melanjutkan kuliah di Yogyakarta sebagai Mahasiswi Universitas Gadjah Mada Jurusan Kedokteran Umum.

Jatinangor ialah tempat tinggalku yang ke-dua, karena perlakuan dari Ibu Kostku yang biasa aku panggil mamih memperlakukanku layaknya anak kandungnya sendiri, entah karena aku kekasih dari anak si mata wayangnya atau memang mamih merasa selalu kesepian bertahun-tahun ditinggal suaminya, sedangkan anaknya semenjak SMP memilih untuk terpisah dari Ibunya karena ingin melanjutkan sekolah nya di daerah kecil Ciamis beserta neneknya, karena tak ingin kenangan bersama ayahnya menghantui setiap hari dikehidupannya. Namun ketulusanlah yang aku rasakan dari perlakuan mamih terhadapku, bahkan untuk uang makanku selama kuliah bisa aku belikan buku filsafat kegemaranku, karena hampir tiap harinya aku di wajibkan untuk makan bersama mamih di ruang makan miliknya.

12 September 1997

Tahun pertama kuliahku begitu saja aku lalui dan banyak pengetahuan yang sangat baru aku serap di tiap harinya, sedangkan di tiap sorenya ku sempatkan untuk berdiskusi dengan kawan-kawan dari gerakan mahasiswa yang tak lama setelah aku menjadi mahasiswa aku masuk menjadi anggotanya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Dari pertemuan-pertemuan dengan kawan-kawan GMNI lah urat-saraf pengetahuanku mengenai keadaan objektif bangsa aku mengetahui, bahwa yang terpinggirkan ialah mereka yang sadar akan perubahan, sedangkan perubahan ialah harga mutlak bagi kemajuan dan kemandirian bangsa dari bangsa-bangsa lainnya. Bukankah mustahil adanya, tatkala suatu negeri yang memiliki Sumber Daya Alam melimpah ruah, rakyatnya sebagian besar ialah gembel-gembel yang terampas mimpi dan harapannya. Harus ada yang bertanggung jawab!!!.

25 April 1998

Pusara carut-marut Indonesia kini telah sampai pada titik nadir yang menggelisahkan, reperesi aparatur pemerintah terhadap kami sebagai anak jaman yang mengindahkan atas perbaikan negeri ini coba di matikan semangat juangnya lewat acungan senjata dan sempitnya jeruji penjara.

Aku kini berada di sel nomor 12, Polsek Jatingangor, setelah kemarin beberapa elemen dari gerakan mahasiswa menuntut untuk menurunkan harga sembako sekaligus menurunkan Soeharto sebagai biang keladi dari caru-marutnya ekonomi dan politik negeri ini. Bersama 12 kawan pula aku meringkuk di sel 2 x 3 ini, karena dari ke tiga sel yang tersedia dua diantaranya telah dipenuhi oleh maling-maling kampung, yang kebanyakan kedapatan sedang mencuri beras tetangganya untuk keluarganya di tambah bogeman para warga yang kesal sebelum akhirnya di serahkan pada pihak berwajib. Dengan seretan polisi tanpa seragam aku dan ke dua belas kawanku berakhir di sini, sesaat aku ingat akan nasib dari Tan Malaka yang tersurat seklaigus tersirat melaui bukunya Dari Penjara ke Penjara. Aku tiada pernah menyesal meringkuk disini, bahkan menjadi ajang reuni kawan-kawan seperjuangan dan kami yakin desakan kawan-kawan dalam aliansi KAMI untuk membebaskan kita ber-tiga belas dari kungkungan penjara ini akan terlaksana setidaknya dalam dua hari mendatang.

28 April 1998

Siang ini, setelah tuntutan dan pihak universitas datang untuk meyakinkan bahwa maksud kami bukanlah makar atas pemerintahan, kepala polisian Jatinangor membebaskan kami ber-tiga belas tepat dua hari sesuai perkiraan kami sebelumnya. Aku tak merasa senang yang meluap atas pembebasan ini, karena tak ada alasan untuk itu, kami ditangkap karena sesuatu yang tidak seharusnya dibungkam dan kami dibebaskan karena sesuatu yang logis untuk kami teruskan perjuangannya. Satu-satunya hal yang membuatku gembira ialah masakan Mamih yang menungguku dan pribadinya yang selalu akan mendukung atas pilhanku sendiri di saat-saat seperti ini.

1 Mei 1998

Esok hari, dengan desakan yang hampir sama di tiga hari sebelumnya kami gerakan mahasiswa bandung dalam identitas KAMI, memutuskan untuk melakukan aksi demonstrasi di depan gedung sate yang sedikitnya membawa massa dua ratus ribu mahasiswa. Semoga esok menjadi salah satu jalan yang menghasilkan bagi mimpi semua bangsa atas kehidupan yang lebih baik dan sehat.

----------------

“Eman !, sedang apa kau dalam kamar itu ?”, teriak Teteh Clara saat melihat ku berada didalam kamar kosong tak berpenghuni lagi selama 2 tahun. “Liat-liat saja Teh, kali aja ada barang yang masih tertinggal”. Jawabku sekenanya tanpa menoleh Ibu Kostku yang paras nya secantik Artis Ibu Kota Nike Ardilla, karena sang mamih meninggal lima tahun yang lalu karena serangan jantung setelah mendengar Dwipa Nusantara mati tertembak, dan hanya Claralah satu-satunya pewaris tunggal dari 20 kamar kost yang telah menjadi tulang punggug keluarga ini semenjak Bapak Warji, sang Ayah, meninggalkan Clara di saat umur lima tahun karena serangan Jantung pula.

“Catatan apa itu eman ?”, tanya Clara yang tak kusadari telah ada disampingku. “Sepertinya ini adalah catatan Dwipa Teh, saya temukan di dalam tas yang ia pakai semasa kuliahnya dulu, tak sengaja saya buka, niatnya beres-beresin kamar seperti biasanya, tapi saya liat tasnya di atas lemari pakaiannya dulu”, sembari aku berikan catatan tersebut pada mantan kekasih dari si pemilik catatan ini. “Saya akan menuliskannya kembali teh, dan saya kirimkan pada surat kabar, mudah-mudahan bisa masuk sebagai salah satu tulisan Cerpen di salah satu rubriknya”, “Kenapa dalam bentuk cerpen man ?, apa kamu mampu?”, tanyanya dengan kerutan di wajahnya, “Insya Allah mampu teh, karena Den Dwipa pernah menyarankan pada saya, walaupun hanya sebagai tukang bersih-bersih untuk kos ini, menulis ialah hak setiap insan untuk berbuat dan mengabarkan mengenai nilai-nilai yang baik untuk dikabarkan”, “lalu bagaiamana dengan pertanyaan saya Man soal cerpen itu ?”, “Karena jalan hidupnya yang pendek, tapi sarat akan nilai-nilai, akan lebih di terima khalayak umum Teh, daripada tulisan biografi seperti tokoh-tokoh besar, Den Dwipa bukan orang besar kan teh?”, sergahku coba menjawab sekenanya. “Pintar juga kamu ya man, oke aku dukung niatmu, tapi setelah selesai aku liat dulu ya”, pintanya sambil berlalu dan meletakan buku harian itu di atas meja tempat aku baca tadi.

Dua hari berlalu disela-sela aku menuliskan kembali buku harian den Dwipa, akhirnya selesai, dan kuberi judul ; “Sang Dwipa”, dalam hatiku semoga tulisan ini menjadi manfaat untuk semuanya.